Petualangan Raib di Bulan [RESENSI BUKU]


‘Apapun yang terlihat, boleh jadi tidak seperti yang kita lihat. Apapun yang hilang, tidak selalu lenyap seperti yang kita duga. Ada banyak sekali jawaban dari tempat-tempat yang hilang. Kamu akan memperoleh semua jawaban . Masa lalu, hari ini, juga masa depan.’
Dimensi-Surabaya. “BUMI” hadir sebagai novel fantasi pertama karangan Darwis Tere Liye. Genre fantasi ini menyuguhkan petualangan imaji yang menarik bagi pembacanya. Perasaan cemas, takut, senang, sedih bahkan deg deg an mengikuti alur cerita yang dibuat naik turun. Mengambil latar kehidupan remaja perempuan berusia 15 tahun bernama Raib, novel ini membungkus cerita fantasi dengan intrik-intrik khas anak remaja, keluarga, sekolah, dan persahabatan. 
Raib, remaja ini memiliki kehidupan yang wajar seperti remaja pada umurnya. Anak tunggal dari seorang Ibu rumah tangga dan Ayah pekerja kantor, sahabat perempuan, Seli serta teman sekolah yang menyebalkan, Ali. Tapi semuanya berubah ketika Ra sadar bahwa ia bisa menghilang dengan menutup wajah dengan tangannya dan Seli juga mempunyai kekuatan tersembunyi yang ada pada dirinya, dia bisa menciptakan petir dari tangannya. Sedang Ali, anak yang suka bikin onar seolah memukau dengan kecerdasannya. Perjalanan fantasi ini dimulai saat mereka tahu jika di dunia yang Tuhan ciptakan dengan mengagumkan menyimpan banyak rahasia. Dunia memiliki empat dimensi kehidupan yang saling bersisian, berjalan serempak, dan tidak saling melihat yaitu Klan Bumi tempat Makhluk Tanah hidup, Klan Bulan tempat Makhluk Bayangan tinggal dengan populasi paling banyak, memiliki alat mutakhir berkali-kali lipat dibanding Bumi, Klan Matahari lebih dikenal dengan Makhluk Cahaya, ilmu pengetahuan dan teknologinya sama dengan Bulan, dan Klan Bintang disebut juga Klan Titik Terjauh. 
Tamus hadir membawa rencana besar yang mengerikan. Panglima Barat Pasukan Bayangan dari Klan Bulan ini menginginkan Buku Kehidupan yang diwarisi Raib untuk membuka sekat menuju Penjara Bayangan Di Bawah Bayangan  dan membawa pulang narapidana yang ribuan tahun terperangkap, Sang Pemilik Kekuatan. Jika hal itu terjadi maka kericuhan dan kehancuran Klan didepan mata. Pertempuran antara Tamus dan ketiga remaja itu tek terelakkan. Di akhir cerita, Tamus terperangkap dalam lorong gelap yang membawanya ke Penjara menyeramkan itu. Sayang, Tamus membawa serta Buku Kematian akan sangat berbahaya jika buku itu dikuasai Si Pemilik Kekuatan. 
Novel ini akan berlanjut pada seri keduanya, “Bulan” dengan perjalanan ketiga remaja yang lebih seru dan menegangkan. Pada setiap novelnya, Tere Liye mampu menciptakan cerita yang mengalir dan mudah dimengerti.  Jalan ceritanya yang berbeda cocok dibaca oleh para remaja. Namun ada beberapa episode dalam novel ini yang terkesan membosankan berkaitan dengan rutinitas pelajar SMA dengan bumbu masalah keluarga yang itu itu saja.  Akhir cerita yang sedikit memaksakan karena Raib yang membuat masalah ini tidak menyelesaikan masalahnya sendiri.(/tr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *