TKDN Negeri yang Menusuk Industri

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh 

Focus Group Dicussion atau FGD merupakan kegiatan diskusi yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi secara detail tentang suatu hal. Pada hari Rabu 21 November 2018 telah diadakan FGD oleh Departemen Teknik Mesin yang membahas tentang Peran Manufaktur Lokal dalam meningkatkan TKDN.

  • Pengertian tentang TKDN

Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) adalah besarnya persentasi komponen dalam negeri yang terdapat dalam suatu produk manufaktur serta besarnya peran serta industri dalam mengerjakan produk tersebut. Atau secara sederhana TKDN dapat terbagi menjadi 2 macam, yaitu TKDN barang dan TKDN jasa. Dalam hal ini komponen dalam negeri yang dimaksud akan berbeda-beda persentasenya bergantung dengan produk apa yang dihasilkan. Biasanya dalam penilaian TKDN suatu produk bergantung pada dari mana suatu komponen tersebut berasal, apakah dari dalam negeri atau dari luar negeri di mana persentase dari masing-masing komponen nilainya akan ditentukan oleh pemerintah melalui Kementrian Perindustrian. Contoh sederhananya ketika akan membuat sebuah sepeda maka akan dibutuhkan beberapa komponen seperti roda, rangka, sadel, rem, rantai, dan gerigi. Jika kita angap setiap nilai dari komponen tersebut memiliki persentase yang sama, maka ketika 4 dari komponen sepeda diimpor dari luar negeri meskipun sepeda tersebut dirakit oleh anak bangsa kita, nilai TKDN dari sepeda buatan anak bangsa ini tetap terhitung rendah.

  • Efek TKDN bagi bangsa Indonesia

Dalam hal kemajuan bangsa fungsi TKDN ini bisa dikatakan sebagai indikator kemampuan dari industri untuk menjadi mandiri. Dalam hal ini berarti semakin tingi TKDN suatu produk yang dihasilkan oleh suatu industri maka menunjukkan semakin tingginya nilai daya saing produk industri tersebut dalam pasar. Di sini dapat diartikan ketika nilai TKDN dari berbagai produk industri di Indonesia tinggi dapat menunjukkan bahwa Negara Indonesia semakin mandiri dan semakin kuat dalam hal pembangunan industrinya. Selain itu ketika nilai rata-rata TKDN bangsa ini tinggi hal ini akan memotivasi para produsen lokal untuk meningkatkan produksinya sehingga akan dibutuhkan banyak pekerja, dan mengakibatkan makin terbukanya lapangan pekerjaan yang bisa diakses oleh masyarakat.

  • Kondisi sekarang ini

Menurut para pemeran industri lokal, sekarang ini penilaian TKDN suatu produk lokal sangatlah kejam dan tajam.  Contohnya dalam penilaian suatu produk manufaktur seperti sepeda, ketika kita membeli rangka sepeda dari suatu perusahaan dalam negeri maka seharusnya rangka tersebut terhitung sebagai produk dalam negeri dalam TKDN kita. Namun suatu kenyataan yang menyedihkan bahwa bahan baku dari rangka tersebut juga diperhitungkan. Maka ketika bahan baku dari rangka sepeda tersebut didapat dari proses impor maka TKDN sepeda yang kita hasilkan nantinya akan memiliki nilai yang rendah. Hal yang lebih menyedihkan terjadi dalam penilaian TKDN jasa. Meski pengerjaan dari suatu barang dikerjakan oleh orang asli Indonesia dari buyut-buyutnya pun nilai TKDN-nya tidak akan lebih dari 10% TKDN produk keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa jasa atau kemampuan dari seorang individu di Indonesia itu sangat kurang dihargai. (Mungkin karena ini kenapa kok banyak pemuda brilian dari Indonesia pasti kerja diluar negeri)

  • Kebutuhan Industri lokal

Kalau sudah begitu urusannya, lalu bagaimana?

Kita sebagai mahasiswa (terlebih mahasiswa teknik) tidak boleh hanya diam saja! Kita tidak boleh hanya berorientasi bahwa ketika kita lulus nanti kita akan bergabung dalam dunia industri, berperan aktif dalam hal mengembangkan industri. Memang betul hal tersebut tidak salah. Tapi ketika kursi kepemimpinan dari bangsa ini masih dipegang oleh orang-orang yang kurang paham tentang bidangnya maka hasilnya akan sama saja. Meskipun kita bekerja keras sampai jungkir balik, sampai tulang kita jadi besi adamantium sekalipun kalau “rmereka” para pemegang regulasi tetap tidak mencoba memberikan dukungan lebih terhadap para pemain industri maka hasilnya akan sama. Usaha kalian  kurang dihargai, akhirnya kecewa, terus kabur ke luar negeri deh. Solusinya? Ya tidak ada pilihan lain lagi! Menjadi seorang sarjana teknik tidak boleh buta politik! Harus bisa mengambil kursi-kursi penting dalam pemerintahan supaya industri Indonesia ini bisa bangkit, tidak hanya lesu seperti ini. Bercermin dari negera seberang seperti Taipei atau Cina meskipun melakukan fokus ke pembangunan infrastruktur, tapi perindustrian mereka tetap berkembang. Kita sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan infrastruktur bukan? Kenyataan yang terjadi? Benar infrastruktur meningkat, tapi apakah perindustrian negeri juga naik? Tidak semudah itu Ferguso.

Kembali lagi, sekedar menyalahkan para pembuat regulasipun juga kurang adil teman-teman. Di sini perindustrian-pun juga harus bergerak aktif menjemput bola. Melakukan kerja sama yang epik antar masing-masing pemain industri dalam membantu pembangunan bangsa. Karena sesungguhnya pembangunan negeri ini tidak hanya bergantung pada pemegang kebijakan saja. Tetapi juga butuh kerja sama dari semua pihak entah itu pihak pemeran industri, pendidikan, maupun pihak konsumen yaitu masyarakat. Kita harus saling gotong royong dan menghargai segala perbedaan yang ada dan terus bersatu demi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sekiranya cukup segini saja ocehan saya, mohon maaf kalau ini merugikan banyak pihak, saya harap tulisan ini dapat berguna entah bagaimana caranya.

Jika ada kesalahan dalam penulisan mohon maaf sekali karena penulis juga masih sebagian manusia. Jika memang ada pendapat dari teman-teman berbeda ruang diskusi sangat terbuka lebar di sini. Berunding dan berdiskusilah sebelum beruding dan berdiskusi dilarang lagi.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Wildan Alfa Rahman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *